HPN 2026 di Banten Tekankan Peran Pers Hadapi Disrupsi Informasi dan AI
Oplus_131072
SERANG, GESSIT.CO.ID – Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten menjadi momentum penguatan pers agar tetap sehat dan relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, termasuk artificial intelligence (AI). Di tengah disrupsi informasi, pers dinilai tetap memiliki peran vital sebagai penyampai kepentingan publik.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Banten, Deden Apriandhi, dalam Konvensi Nasional Media Massa bertema Pers, AI dan Transformasi Digital: Membangun Ekosistem Informasi untuk Kepentingan Publik. Menurutnya, AI telah mengubah cara informasi diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi masyarakat.
Deden menegaskan, pers memiliki peran penting untuk menyaring risiko disinformasi dan manipulasi fakta yang muncul akibat perkembangan AI. Dengan nilai-nilai jurnalistik dan proses verifikasi, pers dapat menjaga kepercayaan publik.
“Pers tidak lagi sekadar saluran informasi, melainkan simpul strategis dalam ekosistem digital sebagai penjaga kebenaran, pengurai kompleksitas, dan penentu makna,” ujar Deden dalam keterangannya, Minggu 8 Februari 2025.
Ia menekankan disiplin verifikasi fakta yang dimiliki pers mampu membedakan antara informasi faktual dan rekayasa. Karena itu, Konvensi Nasional Media Massa HPN 2026 dinilai menjadi ruang strategis merumuskan kembali peran pers di era AI.
Deden juga mendorong kolaborasi antara pers, pemerintah, akademisi, dan pelaku industri teknologi guna membangun ekosistem informasi yang menjunjung kepentingan publik serta memperkuat literasi media dan digital masyarakat.
Ia berharap konvensi ini melahirkan gagasan strategis, rekomendasi kebijakan, serta praktik baik pemanfaatan AI di dunia pers. Forum ini diharapkan meneguhkan pers sebagai pilar demokrasi dan kekuatan moral di era digital.
Sementara itu, Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat menilai disrupsi informasi merupakan fenomena yang selalu hadir dalam perjalanan sejarah peradaban manusia. Menurutnya, kondisi tersebut justru menuntut pers untuk lebih kreatif dan inovatif.
Ia mengibaratkan disrupsi informasi seperti banjir, yang dapat merusak namun juga memunculkan solusi bagi mereka yang kreatif. Dalam konteks pers, media dituntut menjawab kebingungan masyarakat di tengah banjir informasi dan hoaks.
Komarudin optimistis masyarakat pada akhirnya akan mencari sumber berita yang terpercaya. Ia berharap konvensi ini menjadi momentum konsolidasi media massa agar pers Indonesia semakin kuat dan optimistis menghadapi tantangan zaman. (HRH)
