Site icon Gesit.co.id

Jenazah Surakman, ABK Arupadhatu 1, Ditemukan di Perairan Bengkulu

Oplus_131072

Oplus_131072

BANTEN, GESSIT.CO.ID – Surakman, anak buah kapal (ABK) Arupadhatu 1 yang hilang kontak bersama lima jurnalis di perairan Gunung Anak Krakatau, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

 

Jasad warga Sukajadi, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang ditemukan di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.

 

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan, proses identifikasi dilakukan melalui koordinasi Biddokkes Polda Banten dengan Biddokkes Polda Bengkulu dan tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk mencocokkan jenazah dengan data antemortem keluarga korban.

 

“Setelah menerima informasi adanya penemuan jenazah di wilayah Pulau Enggano, kami berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk dilakukan proses identifikasi dan pencocokan dengan data antemortem dari keluarga korban kapal Arupadhatu 1,” ujar Hengki saat konferensi pers di Mapolda Banten, Rabu, 23 September 2026.

 

Dikatakannya, identifikasi dilakukan dengan pemeriksaan data primer berupa sidik jari, data gigi, serta DNA keluarga korban. Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA oleh Operasi DVI Pusdokkes Polri, jenazah Mr X dinyatakan secara genetis identik dengan Surakman, ABK Arupadhatu 1.

 

“Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA oleh Operasi DVI Pusdokkes Polri, jenazah Mr X tersebut secara genetis teridentifikasi sebagai SU yang merupakan ABK kapal Arupadhatu 1 yang hilang kontak bersama lima jurnalis saat melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau,” jelas Kapolda didampingi Gubernur Banten Andra Soni dan Kabasarnas Banten Al Amrad.

 

Kapal Arupadhatu 1 diketahui bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi. Kapal tersebut membawa lima jurnalis dan tiga orang kru.

 

Informasi hilangnya kontak diterima Kapolsek Carita Iptu Supandi pada Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 13.55 WIB. Pencarian kemudian dilakukan oleh tim gabungan dengan membagi wilayah operasi ke dalam sejumlah sektor.

 

Dalam pencarian hingga hari ke-10, sebanyak 24 kapal dikerahkan pada 11 sektor. Petugas menemukan sejumlah benda yang diduga berkaitan dengan kapal, di antaranya life jacket, pelampung botol, helm plastik, jeriken, terpal dan galon air.

 

Sementara Kabasarnas Banten Al Amrad menjelaskan, operasi pencarian dilaksanakan sesuai ketentuan selama tujuh hari dan kemudian diperpanjang tiga hari berdasarkan hasil evaluasi di lapangan.

 

“Setelah tujuh hari, kami lakukan perpanjangan selama tiga hari. Pada pelaksanaan tersebut kami mendapatkan informasi adanya penemuan jenazah pada tanggal 12, kemudian sampai tanggal 14 kami lakukan evaluasi dan kami perpanjang tiga hari,” ujarnya.

 

Selama masa perpanjangan tiga hari, tim gabungan tidak menemukan tanda-tanda korban lainnya selain sejumlah objek yang telah ditemukan sebelumnya. Atas dasar hasil evaluasi tersebut, operasi pencarian resmi dihentikan dan dilanjutkan dengan langkah tindak lanjut.

 

“Dari tiga hari pelaksanaan perpanjangan yang kami laksanakan, tidak ada tanda-tanda korban yang kami temukan selain objek-objek yang sudah kami sampaikan. Karena itu, kami melakukan tindak lanjut evakuasi dan penghentian operasi pencarian,” kata Al Amrad.

 

Meski operasi pencarian resmi dihentikan, Basarnas tetap melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung serta nelayan dan masyarakat pesisir. Penyisiran juga tetap dilakukan berdasarkan setiap informasi yang berpotensi berkaitan dengan korban maupun objek dari kapal Arupadhatu 1.

 

“Untuk wilayah Bengkulu sampai saat ini teman-teman dari tim gabungan masih melakukan penyisiran dengan informasi-informasi yang kami terima, termasuk koordinasi dan edukasi kepada instansi terkait, nelayan dan masyarakat pesisir di sekitar Pulau Enggano,” pungkas Al Amrad. (HRH)
Exit mobile version