PANDEGLANG, GESSIT.CO.ID – Memasuki hari keempat pencarian, Tim SAR gabungan masih belum berhasil menemukan lima jurnalis dan tiga anak buah kapal (ABK) yang hilang kontak saat dalam perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK), Selat Sunda, Banten.
Di tengah upaya pencarian yang terus dilakukan, keluarga para korban mulai berdatangan ke Posko Tim SAR Gabungan di Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Jumat, 11 September 2026.
Mereka datang untuk memantau langsung perkembangan pencarian sekaligus menunggu kepastian mengenai keberadaan anggota keluarga mereka.
Salah satunya Rodiah, istri Yudistiro Pranoto atau Yudi, jurnalis iNews TV. Bersama keluarga dan kerabat, Rodiah mendatangi posko untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai proses pencarian suaminya.
Rodiah mengungkapkan, komunikasi terakhir dengan Yudi terjadi pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu, ia sempat berkomunikasi dengan sang suami setelah mengirimkan foto anak mereka.
Namun, komunikasi tersebut kemudian terputus. Sekitar pukul 15.04 WIB, Yudi tidak lagi dapat dihubungi hingga akhirnya keluarga mendapat informasi bahwa rombongan jurnalis yang menuju perairan Gunung Anak Krakatau mengalami hilang kontak.
Meski sudah memasuki hari keempat, Rodiah mengaku tetap yakin suaminya bersama tujuh orang lainnya masih dalam keadaan hidup. Ia bahkan berharap rombongan tersebut kemungkinan dapat bertahan dan terdampar di salah satu pulau yang berada di sekitar perairan Selat Sunda.
“Sampai hari keempat pencarian ini, kerja seluruh Tim SAR sudah sangat maksimal. Namun, harapan dan permintaan dari saya, jika nanti memang memungkinkan dan tenggat waktu ternyata belum ada kabar baik, saya berharap ditambah lagi waktu untuk pencarian,” ujar Rodiah.
Rodiah bersama keluarga mengaku akan tetap bertahan di posko dan menunggu perkembangan operasi pencarian. Ia berharap sebelum batas waktu pencarian berakhir, seluruh korban dapat ditemukan dalam kondisi selamat dan kembali berkumpul bersama keluarga masing-masing.
“Namun, mudah-mudahan sebelum tenggat waktu batas pencarian habis, Tim SAR gabungan sudah selesai melakukan pencarian dan semua yang dicari sudah ditemukan dalam keadaan sehat wal afiat dan sudah kembali kepada keluarga masing-masing,” harapnya.
Kecemasan serupa dirasakan Desi Purnamasari, istri Muhammad Bagus Khoirunnas, jurnalis foto LKBN ANTARA. Sejak hari pertama operasi pencarian hingga memasuki hari keempat, Desi terus menunggu perkembangan pencarian suaminya di Posko Tim SAR Gabungan Marina Carita.
Di tengah rasa cemas dan ketidakpastian, Desi sempat ditemui Kapolda Banten Irjen Pol Hengki yang meninjau langsung pelaksanaan operasi pencarian. Dengan mata berkaca-kaca, Desi tak kuasa menahan tangis, namun tetap berusaha tegar dan terus memanjatkan doa agar suaminya segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Desi menceritakan, komunikasi terakhir dengan Bagus juga terjadi pada Senin (7/9/2026). Saat itu, Bagus berpamitan untuk berangkat menuju perairan Gunung Anak Krakatau bersama sejumlah rekan sesama jurnalis.
Sebelum menaiki kapal, Bagus sempat mengirimkan foto nakhoda yang membawa rombongan mereka. Setelah pesan tersebut dikirimkan, tidak ada lagi komunikasi hingga keluarga kemudian menerima informasi resmi bahwa speedboat yang ditumpangi rombongan tersebut hilang kontak.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki memberikan dukungan moral kepada Desi dan keluarga besar delapan orang yang hingga kini masih dalam pencarian. Ia meminta keluarga tetap kuat dan terus mendoakan agar seluruh korban segera ditemukan.
“Turut prihatin ya Mbak, kita doakan bersama-sama. Kita dan tim gabungan di lapangan sedang bekerja secara maksimal untuk menemukan keberadaan mereka,” ujar Irjen Hengki.
Hingga Jumat (11/9/2026), Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian dengan memperluas area penyisiran di sekitar perairan Selat Sunda. Delapan orang yang masih dalam pencarian tersebut terdiri dari lima jurnalis, yakni Muhammad Bagus Khoirunnas dari LKBN ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews TV, Daus dari Anadolu, dan Donal, serta tiga ABK yakni Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pandu. (HRH)

